Wanita dan Sebuah Batu Kecil

12:02:00 AM

Dia bukan pendulang, juga bukan penempa. Dia hanya seorang wanita biasa yang melihat wanita lain memamerkan benda kecil berkilau bernama berlian. Wanita ini tidak kaya, tidak bisa apa-apa, namun sangat ingin suatu saat dapat memakai berlian itu di tangan kecilnya.
Pada suatu malam yang terasa sangat biasa, seorang temannya menawarkan sesuatu untuknya. Sebuah batu biasa, yang tidak menarik sama sekali. Lalu dengan sedikit mengangguk, batu itu kini berada dalam genggamannya.
“Lalu untuk apa aku terima batu ini? Ah.. bodoh” gumamnya.

Esoknya, ia pergi untuk melihat para penempa bekerja. Awalnya penempa itu mencari di suatu sungai yang sudah ditentukan, mendulang lumpur mencari bongkahan kecil. Mata mereka harus jeli menyeleksi satu-persatu. Seharian berendam di sungai demi satu dua batu kecil bercahaya.

“Mungkin aku harus membersihkannya terlebih dahulu..” wanita itu segera berlari menuju rumah kecilnya.

Dibukanya laci tempat ia menyimpan batu aneh itu, dipandanginya beberapa saat, lalu ia pergi dan beberapa menit kemudian ia kembali. Dengan perlahan ia membersihkan batu kotor itu. Sedikit demi sedikit. Rupanya batu itu sangat susah dibersihkan. Warnanya kelam seperti sudah menyatu dengan lumpur. Sejenak ia ingin menyerah.

“Kalau ini hanya batu biasa, aku cuma buang-buang waktu membersihkan ini!” katanya dengan sedikit kesal karena batu itu tidak kunjung bersih.

Wanita itu kesal dan ingin membuang batu tersebut, tapi tetap saja sepulangnya ia ke rumah selalu meluangkan waktu untuk membersihkannya. Memang terkadang harapan dan kepercayaan tidak dapat diukur. Sampai akhirnya perlahan warna lumpur disekeliling memudar. Ternyata batu itu bukan berlian.

“Yah.. tak apa. Walau ini bukan seperti berlian yang aku harapkan, setidaknya aku mulai menyukai batu ini” katanya dalam hati.

Selanjutnya ia pergi lagi melihat penempa. Kali ini ia ingin tahu caranya membentuk batu. Iya, berlian tidak akan bernilai jual mahal apabila tidak dibentuk terlebih dahulu. Sulit dan rumit. Ditambah lagi dia memang bukan seorang ahli penempa. Namun kabar baiknya, ia diperbolehkan belajar dan mencoba membentuk sendiri batu yang ia bawa dari rumah untuk dibentuk dengan alat-alat di situ.

Ketika batu itu hampir selesai, seseorang datang dan ingin membelinya dengan harga mahal. Lalu harus bagaimana wanita ini? Menjualnya atau tetap menggenggam agar tetap menjadi miliknya?

Seorang penempa egois, yang tidak mau menjual batu miliknya kepada siapapun. Namun di sisi lain, ia tidak pantas memilikinya.

Ia terlalu miskin dan begitu kotor, tidak cocok memiliki batu seindah itu.
Satu kesalahan di sini. Saking terlalu sibuknya mempelajari dan menempa batu, wanita itu lupa membentuk dirinya sendiri. Memantaskan diri agar suatu hari dapat memakai benda kecil hasil karyanya. Kini, saat batu itu sudah menjadi lebih bersinar, wanita itu justru semakin memudar. Ia bertekad, jika suatu saat ia diberi batu aneh lagi, pada saat itu juga ia harus sudah menjadi wanita yang lebih baik dari sebelumnya. Menjadi yang pantas mengenakan hasil karyanya. Tanpa perlu merasa takut batu itu berpindah tangan seperti batu terdahulu.

Dan kini wanita itu sedang berusaha, semoga pula batu bersinar itu bukan berlian terakhir yang tersisa untuknya. 

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images

Subscribe