Seorang Teman

12:28:00 PM

“ehmm.. lalu masalahmu apa?”
Aku bertanya hal yang sama untuk kesekian kalinya. Malam itu begitu membingungkan. Seorang temanku tiba-tiba datang untuk bercerita. Menjadi seorang aku tidak lah mudah. Aku bukan pemberi saran atau konsultan yang baik. Dan lagi, butuh beberapa menit lamanya otakku mencerna kisah demi kisah yang ia ceritakan.

“Katanya dia bosen..” jawabnya melemah menundukkan kepala. Wajahnya tertutup poni depannya, sehingga aku tidak dapat melihat matanya yang mungkin saja mulai basah.

“Gitu doang? Ngga bisa diperbaikin gitu? Masa hal sepele kayak gitu bikin bubaran..” kataku yang terdengar enteng, padahal sebenarnya aku tidak tahu harus memberi reaksi apa.

Aku diam. Temanku juga. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha mengatakan sesuatu tapi terkunci. Mungkin ia takut jika bibirnya terbuka, akan ada banjir besar mengalir memenuhi kamarku yang berukuran sangat kecil. Lalu kita bisa saja tenggelam kehabisan nafas sebelum masalah ini terselesaikan.

Bosan? Tidak adakah yang lebih rumit dan kompleks dari itu?

Aku membiarkan temanku duduk memeluk boneka yang aku namai Singa, ukurannya hanya sepanjang lengan tanganku. Aku meninggalkan ia dalam diam. Awkward moment. Lalu aku mulai (sok) sibuk membuka & membalas chat yang sudah menumpuk daritadi..

-----------------------------------
Message from Ima to group “ciwik tikli”
“Aku ngga kuat kalo gini terus. Males jauh-jauhan. Ngga bisa ketemu langsung kalo ada masalah..”
“Nanti juga ada waktunya ketemu kan.. Semoga dia sabar nunggunya ya Ma.. Masih bisa diperjuangin. Nah kalo aku? Aku sama dia beda.. rasanya gak rela buat pisah..”
“hik.. iya Put..”

Ternyata mereka juga punya masalah yang sama. Yang satu terpisah jarak, satu lagi terpisah keyakinan. Life?
Kami semua dulu satu sekolah. Beberapa bulan lalu kami baru saja lulus, dan masing-masing mulai memasuki dunia baru bangku perkuliahan. Semua terpisah dan berpencar. Dan satu lagi, berpisah dengan pacar pertama kami. Hehehe.. iya yang sedang kami bahas di grup itu masalah masing-masing dengan pacar pertamanya. Eciye banget ya?

Sebut saja “Ma”
Sewaktu sekelas dulu, aku tidak begitu akrab dengannya. Mungkin karena jarak tempat dudukku yang jauh, dan ia seorang perempuan yang sangat pintar dibanding denganku. Ma sangat ahli pada saat presentasi di depan kelas, tugas produktifnya pun dikerjakan dengan sangat rapi dan sering kali membuat mentalku menciut. Rasanya semua tugas yang diberikan selalu dibuat dengan niat tinggi. Pacarnya juga sekelas, jadi terbayang kan setiap hari mereka pasti bertemu. Ma memutuskan kuliah di PTN luar Bali. Tepatnya Surabaya. Mereka sekarang sedang menjalani Long Distance Relationship. Perbedaan waktu. Jarak. Dan kesibukan masing-masing. Mungkin jika bisa mereka berteriak dan mengirimnya melalui udara, kota kita sudah penuh sesak dengan segala rasa rindu yang ingin segera bertemu. Denpasar-Surabaya mungkin tidak begitu jauh. Namun jarak tetaplah jarak. Lalu? Yap.. ini masalah yang Ma hadapi. Komunikasi yang terhalang hitungan kilometer. Masih bisa diperjuangkan. Saran? Menyediakan sedikit dari 24 jam untuk saling bertanya kabar, dan sabar untuk menunggunya datang. Terdengar menyepelekan? Ya lalu apa? Hanya itu yang dapat otakku pikirkan.

Perempuan mungil yang dapat kita sebut “Put”
Di masa sekolah dulu, perempuan ini primadona sekolahan. Hahaha.. yang namanya sekolah teknik, mayoritas isinya laki-laki, dan Put ini imut dan mungil. Bagaimana bisa menolaknya? Aku dan Put berteman dekat. Jarak bangku kami hanya berselang beberapa. Ia berpacaran dengan anak laki-laki yang berbeda keyakinan yang ia anut. Tidak.. aku tidak bermaksud sara. Tapi kalian tahu kan bagaimana perbedaan masih begitu tabuh. Mereka sudah menjalani hubungan sekitar hampir 3 tahunan. Dulu aku melihat mereka sebagai pasangan yang sama-sama keras kepala, namun sisi lain setidaknya mereka masih dapat menjaga perasaan yang sama selama hampir 3 tahun ini. Lalu? Ya.. mereka menghadapi permasalahan perbedaan itu. Rumit? Yup. Dan pastinya menyakitkan harus terpaksa berpisah. Saran? Aku tidak bisa memikirkan untuk hal yang seperti ini. Diteruskan? Berhenti?

-----------------------------------
Lamunanku buyar. Aku dengar teman di depanku menggumam.

“aku emang ngebosenin.. bego..”
Aku melihat ke arahnya. Ia masih saja menunduk. Ku lihat pipinya yang basah. “aku harus bagaimana..” pikirku. Ingin sekali memeluknya agar tenang, tapi aku hanya bisa diam.
“kamu udah berusaha kan buat jadi lebih baik.. udah berusaha buat gak ngebosenin.. gapapa mungkin emang dianya yang terlalu susah buat disentuh ...sekarang saatnya kamu berhenti. Ya?” kataku dengar suara yang sedikit bergetar. Aku tahu melakukan kata-kataku barusan tidak semudah yang aku ucapkan.
Walaupun jarak rumah mereka tidak berjauhan, walaupun keyakinan bukan lagi masalah untuknya. Mereka tetap terpisah. Mereka tidak ada rasa yang sama.

Temanku mulai berangsur tenang, aku senang sepertinya ia mulai dapat aku kontrol. Malam itu aku tersenyum pada cermin di depanku. Sudah cukup hari ini. Aku tertidur sambil memegang Singa. 

You Might Also Like

2 comments

  1. aku tau 2 orang yg anda ceritakan... :D haha jadilah penengah yg baik yon...
    good story :S

    ReplyDelete
  2. "emang dianya yang terlalu susah buat disentuh ...sekarang saatnya kamu berhenti" sekarang lagi gini dah yon hahaha :'D

    ReplyDelete

Flickr Images

Subscribe