Love Letter

12:02:00 AM

Denpasar, 5 Februari 2014


Hai..

Umm..

Hehehe maaf, aku selalu gugup untuk memulai suatu obrolan. Bahkan untuk obrolan antara aku dengan diri sendiri. Sebelumnya, aku ingin memberimu suatu surat elektronik masa kini lewat susunan abjad dari jariku. Apa kamu berkenan untuk membacanya dari awal sampai akhir? Aku tidak memaksa atau memohonmu. Tapi ketahuilah dulu, tulisan ini ku persembahkan untuk kamu. Seorang anak laki-laki yang berhasil membuatku jatuh hati.


Bagaimana memulainya ya? Banyak kata-kata yang dengan brutalnya ingin segera dikeluarkan dari otakku yang pelupa ini. 
"Di sini pengap, terlalu penuh dan sesak! Kami bosan selalu melihat bayang wajahnya.." ucap mereka.
Yah.. otakku memang bekerja lebih cepat dibanding jari-jariku.

Aku meminta maaf, sudah mengganggumu dengan semua tulisan ini. Mungkin kamu pun juga gerah dan bosan. Mengingat hampir semua tulisanku (yang berbau cinta) selalu tentang kamu. 



Aku meminta maaf, sudah lancang menyukaimu. Aku tahu kapasitas diri. Tidak ada satupun yang istimewa dari seorang Aristia Riyanti. Jika kamu mencari "Wanita yang Berbeda dari yang Lain", maka bukanlah aku orangnya. Aku sama seperti wanita kebanyakan. 

Tidak bisa memanjat pohon. Suka berbelanja. Geli dengan serangga macam kecoa yang bisa terbang. Dan sangat suka hal romantis seperti kelip cahaya di tengah kegelapan.
Aku sama. Tidak ada yang membuatku berbeda. 

Pemimpi sepertiku, sudah sepatutnya layak berada di sampingmu. Kamu dan aku adalah sepasang kekasih. Kita suka duduk di taman, memberi sedikit jarak namun saling menggenggam tangan dan bercerita segala hal. Kita tidak saling beradu mata, tapi kita tahu bahwa kita saling mencinta. Seperti itu. Kamu dan aku. Di dunia imajinasi yang telah aku rancang sendiri.



Jika saja selera musikmu rendah, pasti aku sudah memberanikan diri bernyanyi di hadapanmu. Memetik senar ukulele biru mudaku. Aku tidak akan menatap matamu, karena jariku mungkin saja salah chord. Tampil sesempurna yang aku bisa.



Dan maaf untuk tingkahku yang menyebalkan. Mengabadikan kamu di kameraku. Aku tahu kamu tidak suka di foto, tapi seorang pengoleksi moment sepertiku tentu tidak mau melewatkan hari yang membuatku bahagia. Yaitu ketika berada di sampingmu.



Teruntuk kamu, semoga selalu dilimpahkan keselamatan dan kebahagiaan yang secukupnya. Semoga kita dapat segera dipertemukan. Dalam segala rencana Tuhan yang membuatku takjub, aku berterima kasih mengucap syukur.



Mungkin cukup segini saja suratku. Kamu pasti sudah tidak sabar untuk segera mengakhirinya bukan?








Oh iya.. kamu apa kabar? Ah.. aku lupa. Kita bahkan belum pernah bertemu, apalagi berkenalan. Boleh aku tahu namamu? 


- Aristia Riyanti - 

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images

Subscribe