Mars & Venus : Mata Lapisan Pancake

2:05:00 AM

Masih di tempat yang sama, para pemain terlihat mulai lelah. Badan mereka basah dan nampak lengket jika kalian mau sekedar menyentuhnya. Beberapa diantaranya keluar lapangan dan merogoh tas ransel untuk mencari air minum. Duduk. Saling berbagi minum. Dan tertawa. Bibir Praill dengan refleks ikut tersenyum, padahal ia sama sekali tidak mengerti apa yang membuat mereka tertawa. Melihatnya saja terasa menyenangkan.


Sambil bersenandung kecil nada-nada yang ia karang sendiri, kepalanya mengangguk pelan seakan menikmati musik ciptaannya, meregangkan kaki dan mengayunnya bergantian. Tatapannya yang lurus ke depan dengan perlahan ia menolehkan kepalanya ke arah selatan. Sayup-sayup terdengar (dan terasa) langkah kaki yang mendekati. “Mana mungkin ada anak yang bermain basket dengan tampilan seperti itu..” pikirnya sambil sekilas mengamati. Seorang lelaki dengan rambut yang sedikit berantakan. Wajahnya seperti habis bergadang semalam suntuk. Memakai baju kaos hitam dengan celana jeans straight lurus sampai ke bawah. Dan ia memakai kacamata yang berframe persegi panjang.




Anak lelaki yang mendekat itu mulai memelankan langkah kakinya. Dengan jarak kira-kira sepanjang salah satu tangannya, ia berhenti di samping perempuan Mars itu. Dan menguap. Kedua kelopak matanya sedikit lebih tebal dibanding yang lain. Bertumpuk seperti lapisan kue pancake, dan dengan bola mata yang agak memerah itu pas sudah bagai topping buah ceri. Kedua pipi tirus dan bahu yang sedikit turun membuatnya nampak kurus. Namanya Maye. Cara membaca namanya “Maey”, ah seperti nama anak perempuan saja. Ia mengucek mata kanannya lalu lanjut berjalan di depan melewati Praill. Praill kembali mengarahkan arah pandangan ke para pemain di lapangan. Melanjutkan lagi senandung tak jelas dari gumamannya. Mengangguk. Dan mengayunkan kaki.



Siang yang perlahan menjelma menjadi sore. Langit biru yang mulai bergradasi menjadi oranye. Matahari sang pekerja keras harus menyinari belahan Bumi bagian yang lain, bukan hanya di lapangan basket ini. Saatnya kembali melangkah menuju apa yang biasa mereka sebut rumah. Untung saja sebelumnya Praill diberikan alamat tempat tinggal yang sudah disediakan keluarganya di Mars.



Ia berjalan kaki tanpa daun besar kesayangannya.

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images

Subscribe