Coba Tengok Senja

5:20:00 PM

Malam itu aku bangun dan mengendap. Menuju brankas tempat ibuku menaruh dompet uangnya. Pelan.. pelan sekali aku membukanya agar tak satu pun orang terbangun. Itu dompetnya..
Aku menyisipkan kertas tulisan yang baru saja aku buat. Tulisanku mungkin saja tak terbaca, namun goresan terbaikku saat itu. Ku tutup rapat kembali, dan melanjutkan tidur. Paginya aku tidak langsung bangun, sayup-sayup aku mendengar ibuku membuka brankas dan mengambil dompet. Beliau tertawa kecil.
"Selamat hari ibu. Putu sayang ibu, jangan suka marah-marah lagi" - template yang hampir selalu aku gunakan, tapi selalu berhasil.
Aku yang masih berumur sekitar 6 tahun dan berlanjut ke beberapa tahun berikutnya.

Aku menghias pohon plastik kecil yang dibeli ibuku di pasar. Entah apa menariknya. Aku beri pita-pita rambut yang sebenarnya pita sekolahku. Aku gantung beberapa kertas ucapan. Setelah semua selesai, aku taruh kembali pohon plastik itu di atas lemari. Ibuku lewat, sontak aku berkata "Liaaaaat.." sambil menunjuk hasil karyaku. Beliau mengambil dan membacanya, tidak ada ucapan terima kasih, namun berbalas senyum lalu pohon plastik itu dipindah-tempatkan.
Aku yang tidak ingat umur berapa, yang pasti saat masih Sekolah Dasar.


"Ini ada hadiah, dibuka dong.."
"apa? tumben banget.. ada apa nih.."
"gak apa sih, kan valentine.. sesekali kasi hadiah gapapa ya.."
Beliau mengambil hadiahku, lalu membukanya. Aku segera masuk ke kamar karena malu, karena jarang sekali aku memberi hadiah ke orang tua. Canggung.
Ibu memanggilku ke tempat tidurnya. Beliau nampak senang, ia memelukku. Rasanya ingin menangis, semakin besar aku semakin canggung untuk memeluk ibu. Kali ini beliau memelukku dan berkata "Makasih ya.. kok bajunya ibuk ada 2 bapak cuma satu? Bagus bajunya, jadi lebih muda". Hehe.. padahal itu karena kebetulan juga lagi diskon. Keeseokan harinya, Ibu langsung memakai baju pemberianku -yang bahkan belum dicuci- untuk keluar rumah.
Aku pada 14 Februari 2010.


Lupa tahun kapan, pokonya di jalan mau pulang dari acara sepupu di Jembrana

*scroll recent updates*
*scroll recent updates*
*buka instagram*
*nonton youtube*
Hari ini semua memasang foto bersama ibu, mengungkapkannya, memberi hadiah. Aku beralih ke youtube, lagi-lagi video tentang ibu. Awan yang lelah, akan menghempaskan bulir ke tanah. Tahun lalu aku & adiku membersihkan foto besar yang ada di ruang khusus untuk persembahyangan. Pada saat itu adiku membeli bunga plastik yang dijual di depan sekolahnya. Aku bilang itu konyol, terlalu chessy. Padahal sebenarnya aku juga ingin. Bingkai foto bersih dan penggantian bunga plastik yang menggantung setahun lalu. Terlihat baru.
Tahun ini, aku hanya duduk dan mengetik sisa cerita yang dapat ku ingat.
Aku yang sudah menjadi mahasiswa, tahun 2014.

Jika nanti aku sudah berkeluarga...
Aku akan mengajarkan untuk tidak ragu dalam hal saling memberi.
Aku akan piknik keluarga setidaknya 2 minggu sekali.
Aku akan menemani mereka belajar sampai mengerti.
aku akan memohon diberi waktu yang lama. Agar aku tidak pergi begitu cepat.

Maaf mungkin aku memang terlalu canggung. Atau mungkin saat itu egoku sedang labil.
Aku memang tidak sering memberi hadiah. Tidak memberi pelukan sesering ketika aku masih kecil. Sering mengambek karena ingin diperhatikan. Terlihat cuek tapi sesungguhnya aku hanya malu. Mungkin Ibu sedang tertawa, ini kejujuran yang konyol. Tapi Ibu pasti sudah tahu dari dulu kan, bahwa kami menyayangi Ibu?

Sesekali tengok lah senja, bahwa perpisahan juga bisa terasa manis.
Debu, gas, plasma di semesta yang kita sebut Nebula adalah kematian sebuah bintang besar yang hebat, indah, dan tanda lahirnya sebuah bintang baru.

Terima kasih Ibu, hari ini bulir mataku jatuh lagi.
Hai Ibu, kami rindu Engkau bisa kembali di sisi.
Bu.. tahu kah bahwa lebih sulit membagi makanan menjadi 3 bagian daripada 4?


Tahun ketika ibu harus bolak-balik rumah sakit, 2010.

You Might Also Like

1 comments

Flickr Images

Subscribe