Maaf Langit Malam

1:17:00 PM


Pada deretan 365 1/4 hari di tiap tahunnya, ada sesuatu yang sengaja aku selipkan di antaranya.
Pada 12 kali kesempatan, aku sedang menunggu sebuah ajakan pertemuan.
Pada tiap minggu yang menyusun bulan, pada hari yang hanya berumur 24 jam, pada detik yang melangkah perlahan, aku menabung pengharapan yang mungkin saja nanti dapat ku tukarkan.

Bersamanya terasa begitu lucu menurutku. Aku seakan mempunyai sebuah kuota. Setiap detik yang kuhabiskan seperti jumlah bytes berharga. Aku tidak ingin cepat menghabiskannya, karena aku tahu untuk menabung menukarkan sebuah kuota tidak lah secepat kedipan mata. Dia adalah file yang berjumlah lebih dari satu tera,
bahkan aku tidak bisa menghitung berapa pastinya. Banyak dan berat ...dan aku di sini hanya mencicil dengan hitungan bytes yang tidak seberapa.

Senyumnya seperti suatu sulap yang ajaib seakan memutarkan lagu-lagu manis yang sering ku dengarkan. Dia tidak mengeluarkan kelinci dari topi, tapi dia berhasil mengeluarkan kupu-kupu yang lama bersemayam di perutku. Aku tidak bisa menatapnya berlama-lama entah karena sulap ajaibnya atau memang aku yang takut ia dapat mendengar detakku. Rasanya, aku ingin menjadi kartu pilihan sementara kartu lain tak ia hiraukan.

Dia bagai magnet berkutub selatan. Terlihat dari punggungnya yang berada di depanku, seakan mengejek aku yang tidak bisa berbuat apa apa. Lengan kami kadang beradu, persis seperti angin yang berhembus di rambutmu. Sekelibat namun terasa. Di antara keramaian itu, mungkin mereka sedang berusaha berkenalan, ya? Bila dia sang magnet kutub selatan, lalu aku sebut diriku kutub mana? Suatu waktu aku seperti ditarik olehnya tapi di saat yang bersamaan seperti ada yang menahanku untuk tidak mendekatinya.

Padahal pada saat itu, langit malam sudah memberiku kesempatan. Diturunkannya hujan yang tak berlangsung lama. Tempat berteduh ini minim cahaya, ramai, namun kami berdua terdiam. Memandangi hujan. Tak terdengar suara beratnya, hanya sayup-sayup senandung lagu yang entah aku tidak tahu. Isi kepalaku terlalu banyak untuk mengeluarkan satu bahasan obrolan. Akhirnya aku hanya diam. Tidak akan ku tebak isi pikirannya, dia sosok yang susah diprediksi. Terima kasih langit malam, maaf aku hanya bisa membungkam.

Butiran kelip cahaya di langit berbisik meminta diperhatikan. Mereka banyak, banyak sekali. Mungkin karena malam saat itu lebih gelap dari biasanya atau memang mereka muncul untuk melihatku sedang menyandarkan kepala di atas tas ransel berat miliknya.

Semesta, aku telah jatuh.


You Might Also Like

1 comments

  1. Selamat Siang Mbak Aristia,

    Saya sedang blogwalking dan menemukan blog anda.
    Saya Soraya dari http://serumah.com.
    Saat ini trend berbagi ruangan/roomsharing sangat marak di kota besar. Kami berinisiatif untuk membuat situs pencari teman sekamar/roommate agar orang-orang yang ingin menyewa tempat tinggal (apartemen, rumah atau kost) dapat berbagi tempat tinggal dan mengurangi biaya pengeluaran untuk tempat tinggal. Berawal dari ide tersebut, website serumah.com diluncurkan pada awal tahun 2016.

    Saat ini saya meminta bantuan anda untuk menuliskan artikel review mengenai serumah.com di situs blog anda. Saya dan Tim Serumah sangat menghargai jika Anda bersedia untuk memberikan review terhadap website kami dan menerbitkannya di blog anda.

    Mohon hubungi saya jika ada pertanyaan lebih lanjut. Saya ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatannya.

    Soraya F.
    Cataga Ltd.
    soraya.serumah@gmail.com
    http://serumah.com/

    ReplyDelete

Flickr Images

Subscribe