Karenanya, Olehnya, Dirinya

9:28:00 AM

Aku hidup dalam dunia dongengku. 
Tentang betapa menyenangkannya bisa berlari di atas rumput berwarna-warni.
Tentang bagaimana angin menyampaikan pesan dengan bernyanyi.
Tentang pertemuan kita di ujung pelangi.

Aku hidup dalam ambisiku.
Ku habiskan rupiahku demi menemukan rasa terbaik dari adonan kue yang aku racik.
Ku belajar merajut mengaitkan helaian benang demi sebuah boneka kelinci kecil segenggaman tangan.
Ku berlatih menggambar demi sebuah toko kerajinan yang sudah lama aku idamkan.


Aku hidup dalam yakinku.
Pertama, aku bermimpi.
Kedua, aku berlari.

Ketiga, aku berhenti.


Karenanya, aku selalu memimpikan hal baru.
Olehnya, ia membantu mewujudkan dongengku.
Ia membuat angin seolah dapat bernyanyi.
Lalu aku dengan bahagia menari.

Bersamanya, aku selalu merasa terpacu.
Tak peduli bagaimana aku sangat payah urusan dapur
ia membuat semangatku tak boleh luntur.
Helaian benang yang ku coba rajut
tak membuatku berhenti mencoba dan bersungut.
Dan menggambar, adalah sekian dari yang ku pelajari
ia memberi semangat untuk tak boleh berhenti.

Dengannya
aku tak takut untuk jatuh.
 Berkali-kali.
Karenanya
aku tak lagi sering mengeluh.
Ku coba lagi.
Dirinya
adalah salah satu terhebat
yang dapat membuatku selalu bersemangat.

Dan ujung pelangi masih belum dapat ditemukan.

"Dear, it seems like we will never find the perfect happy ending. Cause you are already perfectly imperfect and make me happy. We need no ending."

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images

Subscribe