Membawa Sepatu Tua Berpijak di Puncak; PART 3 (End)

5:45:00 PM

Udah sampe mana ya cerita naik gunung kemaren?
Maunya langsung ngelanjutin ...tapi manusia tetaplah manusia. Terakhir pos tanggal 2 Februari dan sekarang 21 Februari. Cepet ya?

Mulai dari mana ya.. sampe jadi bingung kan..

Hmm setelah berhasil nyampe puncak, istirahat, dan dihiasi insiden tas nyemplung jurang, kami balik lagi turun gunung. Ku kira turun gunung lebih gampang ketimbang naiknya. Oh man, bagian ini malah lebih banyak ngabisin emosi. Seperti judul postingan, yak, aku naik gunung pake sepatu lari kegedean dan uda tua usianya (sepatu lariku udah rusak, ngga kode kok, aku bisa lari pake sandal ajah! huff!). Solnya yang udah ngga begitu kuat, dipake naik gunung, dan sekarang mulai pelan2 menganga. Dan ini bikin jalan yang aku lalui jadi semakin kerasa licin ditambah lagi hujan. 


"Oke, turunnya menggelinding doang bisa.."
APAAN. BADAK BERCULA TIGA MENGGELINDING DOANG. Yang ada aku terus-terusan kepeleset dan jatuh. Turun seret-seretin badan. Sepatu makin ngga kuat, solnya menjadi-jadi dan berisi tanah, licin, turunan dikit jadi jatuh. Kesel pengen nangis. Ini kalo diinget-inget jadi malu sendiri, manja bener jadi manusia. Padahal sebenernya, bagian turun itu ngga jelek-jelek amat, tapi karena bawaannya pengen lepas sepatu-lari-terjun payung ampe di bawah, perjalanan berasa lamaaaaaaaa banget.


Setiap kita berhenti dan istirahat sebentar, pasti tiba-tiba mendung dan mau hujan. Di bagian ini ngeliat pemandangannya seru banget!



Dan ini rasanya nasi + sarden kalengan terenak yang pernah ku makan.
Efek laper mungkin?
Makan segini dibagi berempat dan ditemenin pemandangan Gunung Batur & danaunya.
amazing!
PS : maap ya ngerepotin, jatahnya makannya jadi sedikit karena dibagi2 x')))

Setelah pendakian perdanaku selesai dan lulus sebagai pendaki pemula (dengan tambahan merepotkan dan cerewet), di jalan menuju pulang aku ngeliat lagi gunung yang udah aku daki. Setinggi itu?!

Pada awal mendaki ke atas, aku sempet mikir..
"Buat apa sih kayak beginian. Cuma naik gunung, diem di puncak, terus entarannya juga turun.."
Dan ketika perjalanan pulang, aku baru ngerasa..

Bahwa tadi aku melawan rasa takut mendengar suara gemuruh. Dengan posisi di atas itu, cahaya2nya bahkan terlihat jelas.
Aku juga memberanikan diri melintasi ketinggian, melihat jurang, meski aku tau betul aku takut ketinggian, lewatin jembatan penyebrangan aja bisa gemeteran kok!

Bahwa tolong menolong itu ngga harus jadi temen deket atau kenal lama dulu. 
Aku baru kenal Riska dan engga begitu akrab sama Sulin, tapi Riska sigap nolong ketika aku jatuh (sering banget!), bagi makanan, mereka bantuin ketika aku muntah. Oke.. ini akunya emang ngerepotin yak? :'))
Ketika insiden tas masuk jurang, aku juga ketemu temen (yang meski sampe sekarang aku ngga tau namanya) yang mau hujan-hujanan bantuin kami sampe tasnya berhasil diambil. Kami semua stranger satu sama lain, tapi tanpa pikir panjang saling mau membantu. Saling menyapa.

Bahwa bertahan dan terus jalan adalah hal yang mengantarku sampai tujuan. 
Apa jadinya kalo waktu di tengah perjalanan ke puncak, aku nyerah dan ngga mau lanjutin perjalanan? Aku ngga bakal bisa tau gimana rasanya capek yang dibayar kepuasan. 
Lalu belajar untuk cepat tanggap, dengan hal yang seadanya. Ketika tas jatuh, aku kepikiran buat ngumpulin kayu, lalu selanjutnya kami pake kain kanvas karena ngga ada tali untuk ngiket, nyambungin kayu yang ada. 
Dan waktu turun,aku emosi sampe hampir pengen nangis. Ngga ada yang bisa nolong kita selain diri sendiri. Mau nangis dan diem aja? Ngga bakal nyampe2 di bawah!

Juga, aku semakin mengagumi Tuhan yang Maha Keren. Rasanya engga perlu aku jelasin lagi kalo ini.

---------------------------------------------------

Sampe post ini aku publish, aku masih aja takut suara gemuruh, masih takut ketinggian, sewaktu-waktu juga pernah emosi. Sekarang aku ngerti, mendaki gunung memang ngga bisa ngilangin rasa takutku atau emosiku

...mendaki memberiku pelajaran untuk berani menghadapi takut, untuk terus melangkah meski selangkah demi selangkah setidaknya jangan berhenti dan menyerah, untuk menghargai pertemanan dan kerja sama, untuk berterima kasih dan bersyukur.

Hidup emang ngga menjanjikan kita terus-terusan hidup enak. Mungkin kesulitan sengaja didatangkan, supaya kita mengerti dan bisa senyum ketika kita menengok dari kejauhan ...ternyata setinggi itu dan terlewati.

You Might Also Like

1 comments

  1. Wah, kisah yang hmm..
    Keren yon, aku belum pernah ngedaki dan baca ceritamu jadi keren banget pendaki gitu ya.
    Dan baru tau kalau mendaki itu harus sepagi itu. Setelah ini, ada rencana mendaki gunung lagi kah ?

    ReplyDelete

Flickr Images

Subscribe