Betapa Jahatnya Kamu

2:51:00 AM


Agar mereka tahu, betapa jahatnya kamu.

Ingatkah kamu ketika pertama kita belajar saling mengenal; kita sepasang anak manusia pendiam dan pemalu. Tahukah bahwa di beberapa bulan awal itu kamu membuatku bingung dan tak tahu harus bereaksi apa di hadapanmu. Kamu membuatku secara terpaksa duduk di dekatmu -ya, yang tentu ku beri jarak setengah dari panjang tanganku-, berdiam tanpa tahu harus membicarakan apa, menggembungkan pipi sambil terus menghadap ke arah lain selain ke arahmu. Aku tidak mengenalmu. Kamu pun. Kita duduk bersebelahan melontarkan kalimat basi lalu kembali sunyi. Ku dengar sesekali kamu seperti tertawa, oh mungkin mengejekku karena aku yang hanya diam seperti pengecut karena tidak berani bersuara. Di sebelahmu, tubuhku rasanya kaku. Di atas tebing beralaskan rumput dengan hamparan laut di depan mata kita sore itu, tangan kirimu menarik kepalaku memaksanya untuk bersandar di bahu sebelah kirimu. Awalnya aku menolak, lalu kamu berusaha lebih keras dan kita tahu siapa pemenangnya. Mataku tetap mengarah ke depan, menyaksikan laut menenggelamkan matahari, kepala sebelah kananku bisa merasakan tulang bahu kirimu. Ingat? Saat itu kita hampir sama kurusnya hanya saja kamu lebih tinggi.
Kamu membawakanku rasa takut; namun dengan versi lebih menyenangkan. Betapa jahatnya kamu, telah berani mengejekku bahkan di awal perkenalan. 

Selanjutnya, kita mulai menemui pertengkaran dan perdebatan. Sesederhana kecemburuanmu pada waktu yang lebih banyak ku habiskan untuk merombak html blog. Tahu sendiri aku memang butuh waktu lama, terlebih pada hal yang tidak ku mengerti. Cibiranmu yang memintaku untuk rajin belajar memasak. Membahagiakan isi perutmu, maaf hanya baru bisa sebatas nasi goreng, martabak telur, dan mie goreng. Ah tapi belakangan ini, aku sudah bisa bikin brownies, omelet kornet, pancake, cheesecake cup, dan puding roti. Berkat cerewetmu yang memaksaku. Kamu juga lelaki yang bawel, aku harus bersiap menerima omelan bila aku pulang agak malam dari jam biasa. Bernegosiasi denganmu pun aku kewalahan, sering kali kamu menukarkan rasa bersalahku dengan sebuah ajakan jalan berdua. Aku tidak mau membayangkan wajahmu yang kesal bila aku menolaknya.
Betapa jahatnya kamu, beraninya memanfaatkan kesalahanku.


Aku juga heran, bagaimana kamu bisa sebegitu lancang datang tiba-tiba sudah di depan gerbang. Saat hujan malam hari tanpa mantel karena kamu lupa membawanya, mengenakan kemeja maroon bergaris yang warnanya menjadi semakin gelap karena basah. Saat tiba-tiba ada pesan masuk darimu memaksaku menghampirimu di warung depan gang rumah. Saat pintu rusun kampusku terketuk dan ternyata kamu mengajak pergi makan. Saat ketika malam sepulang kampus dengan muka dan badanku yang capek setelah mengurusi acara, bungamu hadir sebagai manifestasi dirimu menyemangatiku. Saat siang hari membawa balon dan mendekor kamarku sedemikian rupa di tanggal 18 April 2016. Saat pagi hari dengan membawa rebusan ayam dan nasi yang sudah kamu bungkus dari rumah untuk anjing kita -bahkan kamu bisa menyempatkannya sebelum berangkat kuliah. Saat sepulangmu dari kampus karena lelah menjadi tim penilai lomba dan ingin makan tahu tek yang biasa kita makan di persimpangan jalan. Atau semua "saat" yang tidak mungkin ku tulis di sini karena terlalu menyita kalimat.
Betapa jahatnya kamu, berani mengejutkanku dengan tanpa izin sebelumnya datang secara tiba-tiba di depanku.


Tentang bagaimana kamu terdengar seperti mengeluh ketika aku nampak pecicilan -di matamu. Mungkin sering kali kamu melihatku melakukan gerakan aneh seperti tiba-tiba joget, meniru gaya orang sekitar, atau hal ceroboh kecil yang lain. Begitulah caraku merelaksasikan diri dan percayalah itu menyenangkan -mungkin sesekali kamu bisa mencobanya. 
Kamu juga tidak mempercayaiku untuk memboncengmu naik motor. Padahal aku ahli mengendarai dan tidak se-ngebut kamu! Ya aku mengerti, pernah aku meminta dan kamu mengiyakannya. Aku memboncengmu dari mushola daerah Pemogan menuju Mcd Teuku Umar. Di traffic light, motor kita diklakson mobil karena aku salah ambil jalur, mungkin kamu merasa seperti mempertaruhkan nyawamu ya?
Aku sering kesusahan mencolok kabel charger dan dengan nada mengejek kamu berkata "Makanya, bisa kok bilang minta tolong buat dibantuin" lalu meraih kabel itu dari tanganku. Tidak kah kamu mengerti, itu membuatku merasa seperti wanita manja yang selalu butuh bantuan?
Juga tidak akan aku lupa momen saat aku reflek ingin membetulkan ikatan tali sepatumu yang lepas dan kamu tolak maksud baikku dengan kalimat "Aku sendiri aja yang iket, cewek ngga boleh berlutut buat cowok"
Lihat? Betapa jahatnya kamu, berani meremehkan aku.

Banyak. Sangat banyak kejahatanmu sampai aku ingin membaginya pada dunia. Aku ingin semua tahu betapa aku sangat kuat sekian lama bersamamu dan mungkin tak ada yang mampu se-lama ini. Aku harus merasakan penderitaan berupa rasa bahagia secara berkala. Menerima rasa sakit karena terlalu sering tersenyum gembira. Mereka tak tahu, menjadi aku tidak lah mudah. Tuhan harus tahu, betapa aku  sangat bersyukur dihukum bersama dengan lelaki seperti kamu. Demi apa, perilakumu yang itu memaksa untuk ku cintai.
Sungguh, bila boleh meminta, aku ingin terus dijahati seperti ini.

You Might Also Like

2 comments

  1. aaa bagus sekali tulisannya. paling suka yang ini, Aku harus merasakan penderitaan berupa rasa bahagia secara berkala.

    ReplyDelete
  2. mba keju membuatku pedih di ujung Januari

    please kindly check pagisemesta.blogspot.co.id

    ReplyDelete

Flickr Images

Subscribe